Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

29 November 2012

RUMAH MINIMALIS MODERN

GRAFIKA KOMPUTER
S1 PTI 2010 A

Kelompok 1:
Ach. Chanifuddin Fanani     100533404332
Asyiqotul Ulya                       100533404460
Cita Uki Wahyuniyati            100533402633

  
RUMAH MINIMALIS MODERN

Memiliki rumah yang menarik tentunya menjadi dambaan setiap orang. Saat ini orang membuat rumah yang terbaru, selalu memikirkan konsep yang tampak sederhana tapi terlihat sangat modern. Selain enak dipandang, juga penampatan benda-benda  akan semakin mudah. Oleh karena itu, rumah yang bertipe minimalislah yang banyak dipilih dan menjadi primadona di era modernisasi ini. Konsep rumah minimalis identik dengan gaya dan pola kehidupan masa sekarang yang serba cepat, simple, instan tetapi mengutamakan kualitas.
Dalam pembuatan rumah secara real, perlu dibuat desain terlebih dahulu sesuai dengan keinginan pemilik rumah berdasarkan kebutuhannya. Nah, berhubung kami merupakan pecinta rumah minimalis modern dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, maka kami akan membuat rumah dengan gaya tersebut melalui aplikasi pembuat animasi 3D, yaitu Blender.
Rumah yang akan kami buat ini, terdiri atas 2 lantai, yang dilengkapi dengan garasi mobil di bagian samping dan juga taman yang terletak di halaman depan rumah. berikut rancangan luar rumah kami jika dilihat dari pojok samping depan.

gambar 1. rancangan bagian luar rumah (tampak depan dan samping)

Pada lantai 2, kami memberikan balkon yang menghadap ke arah samping rumah, yang bisa digunakan si pemilik rumah untuk bersantai dan menikmati pemandangan sekitar. rumah kami ini menggunakan atap berupa genteng seperti pada umumnya. dan pada bagian depan, kami memasang jendela berukuran besar, yang hampir memenuhi seluruh permukaan dinding depan lantai 2. pemasangan jendela dengan model sedemikian, berfungsi agar rumah lebih terlihat simpel dan si pemilik bisa mengecek keadaan luar tanpa harus keluar rumah.

gambar 2. tampilan balkon rumah pada lantai 2


gambar 3. tampilan depan rumah pada lantai 2

berikut merupakan material yang kita gunakan untuk membuat kaca pada jendela rumah kami:

gambar 4. tampilan material yang digunakan dalam pembuatan kaca rumah

Selain itu rumah kami ini juga dikelilingi dengan pagar beton pada samping kanan-kiri-belakang rumah dan pagar besi pada halaman depan rumah yang disejajarkan dengan gerbang rumah.

gambar 5. tampilan rumah tampak atas yang dikelilingi pagar beton

gambar 6. tampilan pagar depan rumah

Untuk menuju pintu rumah yang terletak pada lantai dasar, kami membuat jalanan kecil yang terbentang dari arah gerbang menuju ke pintu utama rumah dengan dihiasi pagar-pagar kecil dengan jarak yang tidak begitu rapat. Dan sebelum menuju pintu utama, kita harus menaiki 3 anak tangga terlebih dahulu.
Pada lantai dasar ini, terdapat 1 pintu utama sebagai akses keluar masuk rumah yang dilengkapi dengan kaca yang berukuran agak lebar pada samping kiri pintu. penempatan kaca yang terletak di dekat pintu ini memudahkan si pemilik rumah untuk mengetahui tamu yang datang sewaktu-waktu.

gambar 7. tampilan depan rumah lantai dasar

Pada halaman belakang rumah, kami menambahkan tempat jemuran bagi si pemilik rumah

gambar 8. tampilan tempat jemuran pada halaman belakang rumah

Untuk dinding pada bagian samping rumah, kami memberikan tekstur seperti batu bata, sedangkan pada bagian depan kami memberikan tekstur yang berbeda lagi.

Gambar 9. material dinding samping
Gambar 10. material dinding depan

Agar rumah terlihat hidup dan asri, kami memberikan taman yang terletak di halaman depan rumah agak menyamping,  yang ditumbuhi bunga-bunga dan rerumputan.

Gambar 11. tampilan rerumputan dan bunga-bunga di taman

Untuk membuat rerumputan dan bebatuan di taman, kami menggunakan material sebagai berikut.

Gambar 12. material rerumputan
Gambar 13. material batu taman

Pada rumah kami ini juga terdapat pohon yang nantinya akan kami tanam di samping belakang rumah.
Selain itu kami juga menambahkan kursi di taman, yang bisa digunakan si pemilik rumah untuk bersantai.

Gambar 14. tampilan kursi yang terletak di taman rumah

Desain rumah yang kami buat ini masih dalam tahap pengerjaan, masih butuh pewarnaan, pencahayaan dan tambahan beberapa aksesoris untuk memperindah rumah dengan desain minimalis modern ini.
Read more

11 March 2012

Sistem Komputer

Sistem adalah Suatu kesatuan elemen yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu kelompok dalam melaksanakan suatu tujuan pokok yang ditargetkan (Onno W. Purba : 2000 ).
Sistem komputer adalah elemen-elemen yang terkait untuk menjalankan suatu aktifitas dengan menggunakan komputer. Tujuan pokok dari sistem komputer adalah untuk mengolah data menjadi informasi.

1.1 Klasifikasi Komputer
Klasifikasi Komputer dibagi dalam beberapa klasifikasi yaitu berdasarkan :
Jenis data yang diolah
Kemampuan Komputer
Ukuran fisik
Bidang Masalah

1.1.1 Jenis data yang diolah
a. Komputer analog (Analog computer)
Komputer analog digunakan untuk memproses data secara terus-menerus. Keluaran dari komputer jenis ini adalah dalam bentuk dial atau grafik, contohnya besaran arus listrik. Keuntungan dari komputer analog adalah dapat langsung memproses data dalam besaran fisik tanpa harus dikonversikan terlebih dahulu. Dan kerugiannya adalah komputer jenis ini kecepatannya sangat lambat

b. Komputer Digital (Digital Computer)
Komputer digital digunakan untuk memproses diskrit data (bilangan/angka yang terputus-putus) dan akan mengenali data sebagai sinyal diskrit dari tinggi rendahnya tegangan listrik. Keluaran dari komputer jenis ini bisa dalam bentuk angka,huruf dan grafik atau gambar. Komputer jenis ini sangat cocok untuk aplikasi bisnis. karena dapat menyimpan data, proses data lebih cepat, dan dapat melakukan perhitungan dengan logika.

c. Komputer Hybrid (Hybrid Computer)
Komputer hybrid adalah kombinasi antara komputer analog dengan komputer digital, sehingga komputer jenis ini dapat melakukan pengolahan data kualitatif dan kuantitatif. Komputer hybrid lebih cepat lagi di bandingkan komputer jenis digital.


1.1.2 Berdasarkan Kemampuan Komputer

a. Small Scale Computer
· Disebut small scale mainframe computer
· Kapasitas memori antara 64 KB s/d 8 MB
· Dapat menangani puluhan terminal computer yang terpisah dari pusat computer

b. Medium Scale Computer
· Disebut medium scale mainframe computer
· Kapasitas memori antara 512KB s/d 8 Mb
· Dapat menangani ratusan terminal komputer yang terpisah dari pusat computer

c. Large Scale Computer
· Disebut large scale mainframe computer atau mainframe computer
· Bentuknya besar
· Kapasitas memori antara 512 KB s/d 8 MB
· Kecepatan tinggi dan dapat menggunakan time sharing, yaitu pengguna komputer dapat menggunakan komputer secara serentak dalam waktu bersamaan.

1.1.3 Berdasarkan Ukuran Fisik

a. Komputer mini (Mini Computer)
· Kapasitas memori antara 8 MB s/d 128 MB
· Menggunakan register 8 bit, 16 bit, 32 bit, dan 64 bit
· Bersifat multi user, yaitu sebuah komputer mini dapat digunakan bersama-sama oleh banyak pemakai

b. Komputer mikro (Micro Computer)
· Disebut personal computer (PC)
· Kapasitas memori 16 KB s/d 1 MB
· Menggunakan register 8 bit, 16 bit, dan 32 bit
· Umumnya di gunakan untuk single user


1.1.4 Berdasarkan Bidang Masalah
a. Special Purpose Computer
Komputer jenis ini hanya dapat menyelesaikan satu masalah saja, sehingga hanya program tertentu saja yang dimasukkan dalam komputer ini, misalnya komputer perbankan dan komputer yang digunakan pada kilang minyak.

b. General Purpose Computer
Komputer jenis ini dapat menyelesaikan bermacam-macam masalah. Komputer yang termasuk dalam jenis ini adalah komputer digital dan analog, namun yang umum adalah komputer digital misalnya komputer untuk pendidikan dan komputer untuk bisnis

1.2 Konfigurasi Komputer

Sebelum mempelajari komputer lebih jauh ada baiknya anda mengetahui konfigurasi dasar komputer karena konfigurasi dasar komputer ini sangat berguna bagi anda yang baru belajar komputer dan konfigurasi dasar computer ini sejak pertama dibuatnya komputer hingga komputer saat ini . Komputer yang kita kenal saat ini terbagi menjadi 3 bagian (Robert C. Brenner : 1995):

1.2.1 Hardware (perangkat keras)
Hardware yaitu peralatan dalam bentuk fisik yang menjalankan sistem komputer. Hardware digunakan sebagai media untuk menjalankan software. Perangkat keras terdiri dari:
a. Input device
Alat yang digunakan untuk memasukkan data atau instruksi ke dalam computer. Input device sesuai dengan namanya hanya digunakan untuk memasukkan data atau instruksi ke dalam CPU.
Contoh: keyboard, mouse, dll

b. Process device
Alat yang digunakan untuk melaksanakan kumpulan-kumpulan instruksi yang akan ditujukan untuk menghasilkan suatu hasil tertentu yang dikehendaki. Process device dapat melakukan tugasnya jika ada masukan dari input device baik berupa data atau instruksi.
Alat pada proses ini disebut CPU (Central processing Device)

c. Output device
Alat yang digunakan digunakan untuk menampilkan laporan hasil pengolahan dari input baik ditampilkan pada layar monitor ataupun cetak pada media lain.
Contoh: monitor, printer, dll

1.2.2 Software (perangkat lunak)
Yaitu rangkaian prosedur dan dokumentasi program yang berfungsi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dikehendaki. Perangkat lunak ini dijalankan pada process device jika mendapatkan respon massukan dari input device dan hasil proses yang dilakukan oleh perangkat lunak dikeluarkan dengan output devise.
Contoh: DOS, Microsoft Windows, Unix, dan Linux

1.2.3 Brainware (perangkat pikir)
Yaitu orang yang menggunakan komputer. Orang tersebut harus mempunyai kemampuan minimal dapat memasukkan data dan mengeluarkan informasi. Perangkat fikir sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses yang dilakukan pada process device, karena computer hanya akan bekerja jika mendapatkan instruksi yang diberikan oleh perangkat fikir.
Contoh: operator, programmer, dan system analyst
Read more

06 March 2012

Landasan Pancasila

1. Landasan Historis
Landasaan historis adalah landasan yang berdasarkan jalan cerita masa lampau atau sejarah.
Landasan hidup atau ideologi bangsa Indonesia tentunya memiliki kekhasan tersendiri dengan bangsa lain. Adapun ciri khas tersebut tentunya dari berbagai hal, diantaranya dari latarbelakang sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Demikian pula dengan Pancasila, Pancasila juga memiliki landasan historis tersendiri, adapun nilai-nilai Pancasila sudah terbentuk sejak dari zaman kerajaan dahulu, yang cukup besar dan terkenal ada dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya, dan Majapahit.
Nilai-nilai pancasila pun masih terus ada pada bangsa Indonesia pada masa setelah kedua kerajaan besar tersebut. Diantaranya pada masa penjajahan dan perlawanan terhadap penjajah yang masih bersifat kedaerahan, masa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, penjajahan jepang, pada masa persiapan kemerdekaan, sampai diresmikan sebai dasar negara Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Proses Perumusan Pancasila diawali dalam sidang BPUPKI I dr. Radjiman Widyadiningrat, tiga orang pembicara yaitu Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.
Tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno memberi nama Pancasila yang artinya 5 dasar pada pidatonya dan tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan, 18 Agustus dimana termuat isi rumusan 5 prinsip dasar negara yang diberi nama Pancasila, sejak itulah istilah Pancasila menjadi dasar negara Indonesia.
Adapun secara terminology histories proses perumusan Pancasila sbb :
a. Mr. Muhammad Yamin (29 Mei 1945).
- 5 Asas dasar negara Indonesia Merdeka :
1. Peri Kdbangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat.

- Rancangan UUD tersebut tercantum 5 asas dasar negara yang rumusannya :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

b. Ir. Soekarno (1 Juni 1945).
-5 asas dasar negara Indonesia :
1. Nasionalisme atau kebangsaan Indonesia
2. Internasional atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan.

Selanjutnya kalau menyusulkan bahwa 5 sila tersebut dapat diperas menjadi “Tri Sila”
1. Sosio Nasional yaitu “Nasionalisme dan Internasionalisme.
2. Sosio Demokrasi yaitu “Demokrasi dengan kesejahteraan rakyat”
3. Ketuhanan YME
Dip eras lagi menjadi “Eka Sila” atau satu sila yang intinya adalah “gotong-royong”

c. Piagam Jakarta (22 Juni 1945)
Rumusan Pancasila :
1. Ketuhanan dengan kewajiban mdnjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saya setuju dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap Pancasila dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara secara objektif telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri

2. Landasan Kultural
Landasan kultural adalah landasan yang berdasarkan suatu kebisaan.
Pandangan hidup suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan dan kebudayaan bangsa tersebut bangsa tersebut. Karena pandangan hidup dapat dikatakan sebagai jatidiri dan kepribadian suatu bangsa.
Demikian pula halnya dengan Pancasila yang merupakan hasil pengolahan dari budaya bangsa yang dijadikan sebagai jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia.
Pada kenyataannya pancasila sebagai cerminan dari jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia tidaklah mudah dipertahankan.
Terdapat begitu banyak tantangan, diantaranya adalah era globalisasi yang membentuk sebuah kebudayaan global. Selain itu Pancasila juga berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia dengan memiliki sifat keterbukaan sehingga dapat menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman.
Saya setuju dengan demikian generasi penerus bangsa dapat memperkaya nilai-nilai Pancasila sesuai dengan tingkat perkembangan dan tantangan zaman yang dihadapinya terutama dalam mengikuti perkembangan IPTEK tanpa harus kehilangan jati dirinya.

3. Landasan Yuridis
Landasaan yuridis adalah landsan yang berdasarkan atas aturan yang dibuat setelah melalui perundingan, permusyawarahan,
Landasan yuridis pancasila terdapat dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945, antara lain di dalamnya terdapat rumusan sila-sila Pancasila sebagai dasar negara yang sah, sebagai berikut:
• Ketuhanan Yang Maha Esa
• Kemanusiaan yang adil dan beradab
• Persatuan Indonesia
• Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
• Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Batang tubuh UUD 1945 pun merupakan landasan yuridis konstitusional karena dasar negara yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 dijabarkan lebih lanjut dan rinci dalam pasal-pasal dan ayat-ayat yang terdapat di dalam Batang Tubuh UUD 1945 tersebut
Saya setuju karena landasan yuridis tersebut meskipun bersifat sempurna namun setidaknya menjadi tolak ukur kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Landasan Filosofis
Landsan filosofis adalah landasaan yang berdasarkan atas filsafat atau pandangan hidup.
Pancasila merupakan dasar filsafat negara. Dalam aspek penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilai-nilai pancasila termasuk sistem perundang-perundangan. Pada zaman dahulu saat bangsa Indonesia belum mendirikan negara adalah sebagai bangsa yang hanya berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan, dan pada masa kerajaan-kerajaan hindu pun adalah bangsa yang sudah menganut kepercayaan terhadap Tuhan YME.
Saya setuju nilai-nilai yang tertuang dalam rumusan sila-sila Pancasila merupakan filosofi bangsa Indonesia yang telah tumbuh, hidup dan berkembang jauh sebelum berdirinya negara Republik Indonesia. Oleh karena itu Pancasila menjadi kewajiban moral seluruh bangsa Indonesia untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari baik kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Read more

Konsep Pendidikan Jasmani dan Olahraga

PENGERTIAN DAN SEJARAH PENJAS DAN OLAHRAGA
  1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani terdiri dari kata pendidikan dan jasmani, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (KBBI, 1989), jasmani adalah tubuh atau badan (fisik). Namun yang dimaksud jasmani di sini bukan hanya badan saja tetapi keseluruhan (manusia seutuhnya), karena antara jasmani dan rohani tidak dapat dipisah-pisahkan. Jasmani dan rohanai merupakan satu kesatuan yang utuh yang selalu berhubungan dan selalu saling berpengaruah.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromoskuler, perseptual, kognitif, sosial dan emosional.
  1. Pengertian Olahraga
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
  1. Sejarah Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Istilah pendidikan jasmani telah dikenal pada tahun 1950-an di Indonesia, cukup lama menghilang dari wacana, terutama sejak tahun 1960-an, tatkala istilah itu diganti dengan istilah olahraga. Dampak dari perubahan tersebut sangat luas dan mendalam, terutama terhadap struktur dan isi kurikulum di semua jenjang pendidikan sekolah. Kesalahpahaman juga terjadi terhadap makna kedua istilah itu, karena hamper selalu hanya dikaitkan dengan kepentingan pembinaan fisik, seperti tujuan berprestasi atau sebatas pencapaian derajat kebugaran jasmani.Konsep dasar pendidikan jasmani dapat di pandang dari 3 (tiga) aspek yakni sejarah, pandangan filsafat, dan bukti-bukti ilmiah.
Upaya pembaharuan pendidikan jasmani, yang terpayungi dalam kerangka system pendidikan nasional, berlangsung dalam sebuah bentangan pergulatan antara dorongan untuk berubah dalam kesinambungan. Kebijakan publik dalam pembinaan olahraga, yang tercermin dalam kepentingan nasional, berupa prestise dan kebanggaan nasional untuk membangun percaya diri bangsa selama era pemerintahan Bung Karno dalam kerangka atau selama era dalam pemerintahan Soeharto selama 32 tahun terakhir, sangat kuat mempengaruhi arah, isi dan pengelolaan olahraga pada umumnya dan pendidikan jasmani pada khususnya.
Pasang surut keolahragaan nasional, yang telah merasuki kehidupan bangsa Indonesia sejak pra kemerdekaan, memang banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan faktor politik. Namun kelebihan dan kekurangan kebijakan pemerintah yang diluncurkan merupakan respons nyata yang diposisikan bapak bangsa dan pemerintah untuk menjawab tantangan zaman pada masa itu.
Untuk menjawab tantangan berupa gerak perubahan dinamik yang dibangkitkan oleh globalisasi yang menempatkan pembangunan modal manusia dan modal social dalam kedudukan strategis, maka arah pembaharuan pendidikan jasmani adalah untuk mendukung pembaharuan pendidikan pada umumnya.
Konsep pendidikan jasmani erat kaitannya dengan pendidikan rekreasi, dan pendidikan kesehatan, yang menghasilkan bidang studi Penjaskes, perpaduan antara pendidikan jasmani dan pendidikan kesehatan dengan titik persamaan dalam tujuan terbentuknya gaya hidup aktif sepanjang hayat untuk mencapai kesehatan. Meskipun demikian pebelajaran Penjaskes menjadi tidak menentu dalam hal substansi dan tujuan, persaingan dalam alokasi bagi penyampaian substansi dan akhirnya menggiring guru-guru hanya sekedar menyampaikan informasi dan bahkan pengetahuan yang tidak fungsional atau teori sebagai ganti kegiatan praktik. Masalah lainnya terjadi pada evaluasi yang hanya samapai pada pengukuran kemampuan kognitif paling rendah. Pengajaran terpadu tidak mampu diterapkan oleh guru-guru penjas mengaktualisasi konsep Penjaskes tersebut.
Pendidikan jasmani pada hakekatnya merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan yang ingin diharapkan bersifat menyeluruh, meliputi aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral. Begitu dekat pula tujuannya untuk pembinaan kesehatan dan kesadaran tentang lingkungan hidup.
Dari sejarah tersebut, aktivitas jasmani seperti dalam bentuk kegiatan bermain merupakan alat utama pendidikan. Para pendidik dan filosof percaya bahwa kegiatan itu sangat efektif untuk menumbuhkembangkan keseluruhan potensi peserta didik. Konsep ini telah dirintis penerapannya melalui UU pendidikan tahun 1950-an, yang kemudian sempat luntur akibat perubahan kebijakan. Kini kita berusaha untuk kembali ke asal, memposisikan pendidikan jasmani sebagai alat pendidikan yang dapat diandalkan.

RUANG LINGKUP PENJAS DAN OLAHRAGA
Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
  1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya
  2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
  3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya
  4. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya
  5. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya
  6. Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
  7. Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.

TUJUAN PENJAS DAN OLAHRAGA
  • Tujuan:
  1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
  2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
  4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
  5. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
  6. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
  7. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
  • Manfaatnya:
  1. Memenuhi kebutuhan anak akan gerak
  2. Mengenalkan anak pada lingkungan dan potensi dirinya.
  3. Menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna
  4. Menyalurkan energi yang berlebihan
  5. Merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik, mental maupun emosional


PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PENJAS DAN OLAHRAGA
  • Perbedaan:
  1. Pendidikan jasmani diselenggarakan terutama di lingkungan sekolah,sedangdkan olahraga di selenggarakan terutama di lingkungan masyarakat.
  2. Pendidikan jasmani dikelola dibawah Mendiknas,sedangkan olahraga dibawah wewenang Menpora bersama organisasi olahraga di masyarakat
  3. Pendidikan jasmani cenderung memasyarakatkan olahraga,sedangkan olahraga cenderung mengolahragakan masyarakat
  4. Materi pendidikan jasmani berpusat pada anak sesuai perkembangan psikofisik,sedangkan materi olahraga berpusat pada jenis olahraga yang harus dikuasai sepenuhnya.

  • Persamaan:
  1. Kesamaan tujuan
Pendidikan jasmani dan olahraga ikut membantu meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia seutuhnya
  1. Penekanan tujuan
Pendidikan jasmani menganut prinsip”pendidikan melalui jasmani”,sedangkan olahraga cenderung pada prinsip “pendidikan untuk jasmani”
  1. Kesamaan medium yang digunakan
Keduanya menggunakan medium jasmani atau psikomotor.
Read more

05 March 2012

Modal (Example with Story)

MY FIRST LOVE
(TAKEN FROM MY REAL STORY)

Feeling is believing. Maybe this is the proverb that suited for me. Because I never believed in love, until I felt it. This story started when I was a second-class on junior high school. I got a lot of new friends because of new class at random, so not the same as a first class. In this new class, I was selected as class leader. At the beginning, of the course there was no lesson. We in order to clean our new classrooms. Because I was the class leader, so it was I who was given responsibility for coordinating the one-class friends. When ordered to clean my classes, many friends who are indifferent, some even out of class. Being a leader needs a patience. Few are willing to help clean the classroom. One that charmed me was a veiled woman who was still cleaning the classroom when other friends had stopped working.
Because I didn’t knew her, I approached and I asked her name, her initials are VN. After two weeks into the new school year, the lessons became active. Once again, VN caught my attention. not only diligent, but she's also a smart girl. She good at understanding in almost all lessons. One time, me and her elected to follow the scientific work of youth competitions. Because one team, I was more often communicate with him. It may be true that Javanese proverb says, love starts from the habit. There are other flavors that I feel about him. I was so nervous when talking with him, but I never had the courage to express this to him.
When I’m in the third class, class structure likd first class again so I'm not a class with her anymore. But I can still close to him, because we re-elected by the school to follow the same competition, as a team as well. The longer, I began to dare to approach him. But, what a surprise when I knew that she was dating with senior. My heart is broken and all hope gone, but my love for her still be saved.
On graduation day, I wanted to expressing my heart to him. Though I knew he could not possibly be mine, but at least can alleviate this burden in my heart. Maybe I am a coward, when it was nearby I was never able to reveal the contents of this heart. What makes me the more regret is that when a high school, I was not in the same school with her.
Although I've never met him, but this feeling is not easy for me to get rid of. Until I’m in the second class, I met someone who has a personality like her, her initials is DR. Perhaps because of that equation, I began to like it. I learned from experience, I will not regret reoccur. Until I finally dared to reveal the contents of my heart to her and I'm very happy when he was willing to accept me.
But I feel tricked by the God. Two days after I was dating with DV, I met with VN which was more than two years I've never met her. Life is strange ... ... ... ... ... ..
Read more

04 March 2012

Pengaruh Timbal Balik Antara Sekolah dan Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masyarakat di masa sekarang dan di masa mendatang merupakan masyarakat yang berbudaya teknologi, yaitu bahwa perkembangan teknologi telah berlangsung lama sehingga tersebar luas dan mempengaruhi segala bidang kehidupan. Apalagi jumlah penduduk seluruh dunia yang semakin bertambah, mengisyaratkan bahwa semakin bertambahnya orang maka mereka semakin memerlukan pendidikan.
Masyarakat tidak cukup jika menempuh pendidikan di rumah atau di sekitarnya saja, tetapi juga harus di sekolah. Masyarakat akan ketinggalan jauh jika tidak dibangun sekolah. Mereka juga memahami bahwa sekolah memberikan bantuan yang sangat diperlukan suatu masyarakat teknologi, sedangkan masyarakat itu sendiri tidak bergairah.
Dahulu anak-anak di dunia banyak yang tidak bersekolah. Ada juga yang bersekolah hanya beberapa tahun saja. Di pundaknya, mereka kurang memahami arti pentingnya sekolah. Anak-anak yang tidak pernah masuk sekolah dapat belajar bahwa hal-hal yang baik dalam kehidupan bukanlah untuk mereka. Dari sinilah orang tua dapat belajar bahwa sekolah adalah jalan menuju keselamatan dunia bagi anak-anaknya. Di samping itu, orang tua juga dapat berfikir dan mengambil keputusan bahwa anak-anak mereka nantinya akan menanjak lebih tinggi dari mereka.
Isu yang banyak muncul adalah sekolah sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Ada yang menganggap sekolah hanya sebuah tempat mencari ilmu dan mendapatkan selembar ijazah saja. Padahal tujuan sekolah tidak hanya itu. Dengan sekolah kita dipersiapkan agar nantinya siap terjun ke dalam masyarakat. Sekolah juga merupakan salah satu sarana membina putra-putri bangsa agar menjadi anak yang berguna.
Selain itu, anak akan memperoleh kepribadian yang baik dan ideal pula karena di lembaga pendidikan dan lingkungan yang baik itulah kepribadian yang baik dapat terwujud. Hal ini seperti yang ada dalam teori Empirisme yang menyatakan bahwa pendidikan khususnya dan lingkungan yang baik yang mampu membina pribadi ideal.
Kegiatan pendidikan di sekolah, cepat atau lambat akan mempunyai dampak terhadap masyarakat. Input atau umpan balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan atau untuk mempertahankan yang telah ada.
Mekanisme umpan balik tersebut berpengaruh pada kehidupan sekolah. Menurut istilah Buckley, mekanisme umpan balik itu bersifat morfogenis atau morfotasis. Melalui proses tersebut, sekolah akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Sekolah akan membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera serta ke arah kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih demokratis.
1.2. Rumusan Masalah
  1. Apakah pengaruh sekolah terhadap masyarakat ?
  2. Apakah pengaruh masyarakat terhadap sekolah ?
  3. Apa sajakah penghambat hubungan antara sekolah dan masyarakat ?
  4. Bagaimana menjalin hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat ?
1.3. Tujuan
  1. Untuk mengethui pengaruh sekolah terhadap masyarakat.
  2. Untuk mengethui pengaruh masyarakat terhadap sekolah.
  3. Untuk mengethui penghambat hubungan antara sekolah dan masyarakat.
  4. Untuk mengethui cara menjalin hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat.
1.4. Manfaat
  1. Sebagai bahan informasi tentang pengaruh timbal balik antara sekolah dan masyarakat, penghambat hubungan antara sekolah dan masyarakat, serta cara menjalin hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat.
  2. Memberikan pengertian terhadap masyarakat tentang pentingnya kerjasama antara sekolah dengan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengaruh Sekolah Terhadap Masyarakat
Pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung pada luas tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas sebaran produk sekolah di tengah-tengah masyarakat, lebih-lebih bila diikuti dengan tingkatan kualitas yang memadai, tentu produk persekolahan tersebut membawa pengaruh positif dan berarti bagi perkembangan masyarakat bersangkutan. Dalam hubungan ini, sekolah bia disebut sebagai lembaga investasi manusiawi. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat, sebab manusia itu sendirilah subyek setiap perkembangan, perubahan, dan kemajuan di dalam masyarakat. Rendahnya faktor manusia di setiap masyarakat, baik kualitas, kemampuan, maupun kepribadiannya, sedikit banyak akan berpengaruh terhadap prestadi yang bisa di capai oleh masyarakat bersangkutan di dalam memajukan segi-segi kehidupannya. Itulah gambaran umum tentang pengaruh sekolah terhadap masyarakat.
Berikut ini akan dikemukakan empat macam pengaruh yang bisa dimainkan oleh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat di lingkungannya. Keempat pengaruh tersebut adalah :

1. Mencerdaskan kehidupan masyarakat
Tingkat kecerdasan masyarakat, dapat dikembangkan melalui program pendidikan di sekolah. Soal ini, di sepanjang sejarah persekolahan, selalu menjadi isi dan arah dari program pendidikan di sekolah-sekolah. Baca, tulis, hitung, dan juga pengetahuan umum merupakan pengetahuan dasar di dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa atau masyarakat. Pengetahuan-pengetahuan tersebut, sudah sejak awal diberikan di bangku sekolah. Modal yang tertuang di dalam pengetahuan dasar yang berupa baca, tulis, hitung, dan pengetahuan umum tersebut tentu saja memerlukan penambahan dan pengembangan lebih lanjut. Upaya penambahan dan pengembangan itu, jelas dilakukan secara sistematis melalui program pendidikan di persekolahan. Andil yang dimainkan oleh lembaga persekolahan di dalam peningkatan kecerdasan anak didiknya, secara langsung bisa dipandang sebagai kontribusi pendidikan persekolahan di dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat atau bangsa. Bukankah masukan(input) dan luaran (output) pendidikan persekolahan, mereka berasal dan akan kembali ke tengah-tengah masyarakat ?
Tingkatan kecerdasan warga masyarakat, dalam kenyataannya sangat menentukan ketepatan dan kecepatan penyelesaian atau menanggulangi aneka ragam masalah dan tantangan kehidupan yang dihadapinya. Tanpa kecerdasan yang memadai di kalangan warga masyarakat, sesuatu masalah atau tantangan kehidupan yang sesungguhnya sangat sederhana, akan dihadapi sebagai sesuatu yang sulit dan rumit. Sebaliknya, sesuatu masalah atau tantangan kehidupan yang bagaimanapun sulitnya, sangat mungkin dirasakan sederhana oleh para warga masyarakat yang memiliki kecerdasan tinggi. Pada kehidupan masyarakat, tantangan demi tantangan seslalu menimpa kehidupan warganya, dan araus tantangan tersebut, akan semakin deras dan berat seirama dengan perkembangan masyarakat yang semakin cepat. Disinilah terlihat urgensi yang semakin tinggi dari upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat atau bangsa. Soal yang teramat urgen bagi dan di dalam kehidupan masyarakat tersebut, selama ini senantiasa ditangani dan menjadi kegiatan dari peranan persekolahan bagi perkembangan masyarakat di lingkungannya.

2. Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat
Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak, dan masalah-masalah atau tantangan kehidupan yang tidak ada henti-hentinya di lain pihak. Kedua pernyataan tersebut memotori lahirnya pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik baru yang lebih inovatif, tentu saja untuk diabdikan bagi perbaikan kehidupan di masyarakat. Pengetahuan-pengetahuan baru, teknologi baru, pemikiran-pemikiran inovasi yang funngsional, tentu saja sangat diperlukan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Program pendidikan di persekolahan, di samping menjamin upaya peningkatan kecerdasan, juga mengupayakan transformasi dari pengetahuan, pemikiran dan praktek-praktek baru, tentu saja yang fungsional dan relevan dengan jenis dan tingkatan dari masing-masing sekolah. Isi atau arah program pendidikan yang demikian ini, bisa disebut sebagi transformasi virus-virus pembaharuan yang pada akhirnya akan berfungsi dan menjalar di tengah-tengah masyarakat. Soal ini, juga senantiasa dan menjadi bagian dari peranan persekolahan bagi perkembangan masyarakat atau bangsa.

3. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat
Untuk terjun ke dunia kerja, seseorang memerlukan kesiapan tertentu yang diperlukan oleh lapangan kerja bersangkutan. Kesiapan tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Fungsi penyiapan bagi kepentingan dunia kerja, dalam keyataannya tak terlepas dari perhatian lembaga pendidikan persekolahan. Hal tersebut terlihat baik di dalam program pendidikan yang diselenggarakan pada lembaga pendidikan formal maupun di dalam isi kurikulum pada masing-masing program pendidikan.
Berfungsinya lembaga pendidikan formal di dalam memberikan bekal-bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang relevan bagi dunia kerja, hal tersebut secara langsung membawa pengaruh terhadap lapangan kerja di masyarakat. Kualitas dan kuantitas system lembaga pemberi kerja di masyarakat, sedikit banyak dipengaruhi pula oleh produk-produk atau luaran (output) system pendidikan persekolahan itu sendiri. Oleh karena itu, sangat wajar kalau kualifikasi pendidikan seseorang juga dijadikan salah satu pertimbagan di dalam system seleksi pada lembaga-lembaga pemberi karya di masyarakat.

4. Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat
Sikap-sikap positif dan konstruktif yang dilakukan dalam hidup bernegara atau bermasyarakat, sejak awal, yaitu di sekolah dasar sam pai ke tingkat perguruan tinggi. Orientasi tersebut senantiasa menjadi perhatian bagi lembaga pendidikan formal (persekolahan). Hal ini berkaitan dengan falsafah hidup dari sesuatu bangsa atau masyarakat. Yang sudah tentu mendambakan keharmonisan dan keutuhan (integrasi) sosial dari kehidupan berbangsa atau bernegara. Tata etika di dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, hak dan kewajiban selaku warga Negara, dalam kenyataannya, hal tersebut selalu terintegrasi di dalam kurikulum pendidikan, baik di sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun di perguruan tinggi.
Kualitas persatuan dan kesatuan bangsa atau negara , loyalitas warga negara, sedikit banyak diwarnai oleh pendidikan di persekolahan. Bagi bangsa indonsia, nilai-nilai Pancasila dan wawasan nusantara selama ini, secara esensial senantiasa diperkembangkan di persekolahan. Soal ini perlu semakin dipertinggi efektifitas dan intensitasnya.
2.2. Pengaruh Masyarakat Terhadap Sekolah
Masyarakat tumbuyh dan berkembang. Masyarakatb memiliki dinamika. Di samping itu, setiap masyarakat memiliki idntitas tersendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya.
Identitas yang dimiliki dan dinamika suatu masyarakat, secara langsung akan barpengaruh terhadap tujuan orientasi dan proses pendidikan di persekolahan, terutama dalam hal :

1. Orientasi dan tujuan pendidikan
Identitas suatu masyarakat dan dinamikanya, senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan pada lembaga persekolahan. Ini bisa dimengerti karena sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ke mana program persekolahan harus dibawa yang biasanya tercermin di dalam kurikulum, di dalam kenyataanya selalu terjadi perubahan-perubahan di dalam suatu jangka waktu tertentu. Perubahan-perubahan tersebut tidak dapat dielakkan, sebab pertumbuhan dan perkembangan masyarakat memang memunculkan orientasi-orientasi dan tujuan-tujuan baru. Munculnya orientasi dan tujuan-tujuan baru yang berkembang di dalam masyarakat, hal tersebut ikut bergema di persekolahan baik dilihat dari kacamata makro maupun mikro.
Pengaruh identitas sesuatu masyarakat terhadap program pendidikan di sekolah-sekolah, bisa dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan pada masing-masing negara. Setiap negara mempunyai ciri-ciri khas di dalam orientasi dan tujuan pendidikannya. Pengaruh pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, juga terlihat di dalam perubahan orientasi dan tujuan pendidikan dari suatu periode tertentu dengan periode berikutnya, dan begitu seterusnya. Oleh karena itu, dalam kenyataanya tidak pernah terdapat kurikulum pendidikan yang berlaku permanen, akan tetapi selalu dinilai, disempurnakan, disesuaikan dengan tuntutan perkembangan masyarakat yang terjadi. Soal orientasi kepada mutu atau pemerataan juga dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan masyarakat

2. Proses pendidikan di persekolahan
Bagaimana berlangsungnya proses pendidikan di sekolah juga tidak terlepas dari pengaruh masyarakat. Pengaruh masyarakat yang dimaksud, yaitu pengaruh sosial budaya dan partisipasinya.
Kenyataan sosial budaya masyarakat seperti feudal atau tidak, demokratis atau tudak, bermentalitas modern atau tidak, kesemuanya berpengaruh terhadap proses pendidikan yang berlangsung di sekolah. Sebab komponen-komponen manusiawi yang terdapat di sekolah juga hidup dan diwarnai oleh nilai-nilai sosial budaya di lingkungan masyarakatnya. Dalam hubngan ini, masyarakat sekolah dikatakan sebagai miniatur dari masyarakat yang lebih luas di lingkungannya.
Pengaruh sosial budaya yang dimaksud biasanya tercermin di dalam proses belajar mengajar baik yang menyangkut pola aktifitas pendidik maupun anak didik di dalam proses pendidikan. Katakanlah sekarang dikembangkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), implementasinya akan banyak diwarnai atau dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia. Nilai sosial budaya yang mempribadi di dalam masyarakat bisa terjadi menjadi penghambat atau pendukung terhadap proses pendidikan yang dipandang baik di dalam khasanah pendidikan. Oleh karena itu, usaha-usaha pembaharuan terhadap proses pendidikan di sekolah, mau tidak mau mesti memperhitungkan pula pengaruh sosial budaya dari masyarakat lingkungannya.
Partisipasi masyarakat terhadap sekolah, apakah berwujud material atau spiritual, juga jelas berpengaruh terhadap proses penyelenggaraan pendidikan. Penyelenggaraan di sekolah melibatkan berbagai komponen, baik manusiawi maupun non manusiawi.
Berfungsinya proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah, dalam kenyataannya tergantung pada kualitas dan kuantitas komponen manusiawi, fasilitas dana, dan perlengkapan pendidikan. Soal kualitas dan kuantitas komponen tadi, kalau dikaji akan tampak batapa besar dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat.
Hubungan pengaruh timbal balik antara tingkat partisipasi masyarakat dengan kualitas proses penyelenggaraan pendidikan sekolah-sekolah menuntut adanya jalinan hubungan yang harmonis antara sekolah dengan masyarakat. Jalinan hubungan yang dimaksud, realisasinya bisa diwujudkan di dalam berbagai bentuk dan jalinan. Dalam hubungan ini, sangat diperlukan persepsi yang benar dan tanggung jawab masyarakat terhadap eksistensi pendidikan persekolahan
Perubahan-perubahan yang ada di masyarakat mempengaruhi pula materi pendidikan di sekolah, karena perubahan itu merupakan salah satu sumber yang ada di masyarakat. Sekolah haruslah dapat mengajar anak-anak untuk dapat menemukan, mengembangkan, dan menggunakan sumber-sumber yang ada di masyarakat (“it teches children to discover, develop and use the resources of the local community”), demikian dikatakan oleh Havighurst dan Neugarten dalam bukunya Society and Education. Lebih jauh dikatakan oleh kedua tokoh tersebut, bahwa perubahan-perubahan sosial telah menghasilkan perubahan system pendidikan dan pada saat yang sama para pendidik juga mengadakan control dan mengarahkan perubahan sosial (sosial changes have produced changes in education made system, and at the same time educator have made adaption in schools and universities to help in the control and direction of sosial change).
2.3. Penghambat Hubungan Antara Sekolah dan Masyarakat
Dalam penjelasan dalam poin-poin sebelumnya telah dijabarkan berbagai manfaat/pengaruh sekolah terhadap masyarakat maupun sebaliknya. Tetapi pada kenyataan yang ada di masyarakat, tidak mudah membentuk korelasi yang baik antara sekolah dengan masyarakat, yang di akibatkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Persepsi masyarakat yang salah terhadap sekolah
Seperti yang kita ketahui, tidak sedikit orang tua yang malas menyekolahkan anak-anaknya meskipun dananya seharusnya bisa di usahakan, dikarenakan beberapa persepsi yang salah terhadap pendidikan/ sekolah, antara lain:
  1. Khususnya untuk orang tua wanita, masih ada anggapan bahwa wanita tidak memerlukan pendidikan yang tinggi, karena jika sudah menikah kerjanya hanya di rumah mengurus suami.
  2. Sekolah hanya tempat mencari ijasah. Padahal di sekolah, anak tidak hanya di tuntut untuk mendapatkan nilai, tetapi yang terpenting adalah ilmu, keterampilan, dan kreatifitas untuk bersaing di dunia kerja.
  3. Sekolah merupakan tempat penyebar luasan budaya yang tidak baik. Seperti bicara kasar, jorok, misuh, dan lain-lain.
  4. Sekolah = ajang bisnis, masyarakat berangggapan bahwa sumbangan-sumbangan yang diminta oleh sekolah adalah untuk kepentingan guru-guru, serta petinggi-petinggi sekolah, padahal untuk berjalannya kegiatan belajar mengajar juga butuh biaya.
  5. Guru suka korupsi waktu. Mungkin dulu memang begitu, tetapi sekarang di sekolah-sekolah sudah diterapkan sistim baru untuk menghindari hal-hal yang demikian.
2. Kurangnya komunikasi
Untuk dapat terjalin hubungan yang harmonis, hal yang tidak boleh dilupakan yaitu komunikasi. Bentuk-bentuk komunikasi yang dapat dilakukan antara lain :
  1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
  2. Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
  3. Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.
  4. Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
  5. Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
  6. Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan.
3. Kurangnya Sarana Prasarana
Sarana prasarana yang memadai selain menjadi kunci suksesnya proses belajar mengajar, juga menjadi faktor pendukung terciptanya komunikasi yang baik antara sekolah dengan masyarakat. Seperti, gedung pertemuan untuk wali murid, papan visi misi dan tujuan sekolah tersebut, dan lain-lain.
2.4. Menjalin Hubungan Yang Baik Antara Sekolah dan Masyarakat
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung pada tiga lingkungan yaitu lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil kalau ketiga komponen itu tidak saling bekerjasama secara harmonis. Kaufman menyebutkan patner/mitra pendidikan tidak hanya terdiri dari guru dan siswa saja, tetapi juga para orang tua/masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa lembaga pendidikan bukanlah lembaga yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk memajukan sekolah. Hal ini dapat tercipta apabila lembaga pendidikan mau membuka diri dan menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah/lembaga pendidikan memajukan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
Sekolah pada hakekatnya melaksanakan dan mempunyai fungsi ganda terhadap masyarakat, yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharuan bagi masyarakat sekitarnya, yang oleh Stoop disebutnya sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin (fungsi untuk memajukan masyarakat melalui pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas).
Setiap aktivitas pendidikan, apalagi yang bersifat inovatif, seharusnya dikomunikasikan dengan masyarakat khususnya orang tua siswa, agar mereka mengerti mengapa aktivitas tersebut harus dilakukan oleh sekolah dan pada sisi mana mereka dapat berperan membantu sekolah dalam merealisasikan program inovatif tersebut.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat (School Public Relation) yaitu:
Bagi Sekolah/lembaga pendidikan :
  1. Memperbesar dorongan mawas diri, sebab seperti diketahui konsep pendidikan sekarang adalah oleh masyarakat, untuk masyarakat dan dari masyarakat serta mulai berkembangnya impelementasi manajemen berbasis sekolah, maka pengawasan sekolah khususnya kualitas sekolah akan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat antara lain melalui dewan pendidikan dan komite sekolah.
  2. Memudahkan/meringankan beban sekolah dalam memperbaiki serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Hal ini akan tercapai apabila sekolah benar-benar mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan dan peningkatan sekolah. Masyarakat akan mendukung sepenuhnya serta membantunya apabila sekolah mampu menunjukkan kinerja yang berkualitas.
  3. Memungkinkan upaya peningkatan profesi mengajar guru. Sebab pada dasarnya laboratorium terbaik bagi lembaga pendidikan adalah masyarakatnya sendiri.
  4. Opini masyarakat tentang sekolah akan lebih positif/benar. Opini yang positif akan sangat membantu sekolah dalam mewujudkan segala program dan rencana pengembangan sekolah secara optimal, sebab opini yang baik merupakan modal utama bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
  5. Masyarakat akan ikut serta memberikan kontrol/koreksi terhadap sekolah, sehingga sekolah akan lebih hati-hati.
  6. Dukungan moral masyarakat akan tumbuh terhadap sekolah sehingga memudahkan mendapatkan bantuan material.
Bagi Masyarakat, dengan adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dengan masyarakat maka :
  1. Masyarakat/orang tua murid akan mengerti tentang berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah
  2. Keinginan dan harapan masyarakat terhadap sekolah akan lebih mudah disampaikan dan direalisasikan oleh pihak sekolah.
  3. Masyarakat akan memiliki kesempatan memberikan saran, usul maupun kritik untuk membantu sekolah menciptakan sekolah yang berkualitas.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1. Simpulan
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai lembaga pendidikan di era globalisasi dan desentralistik (otonomi daerah) menuntut team work yang solid antara pihak sekolah itu sendiri dengan pihak luar, baik instansi atasan maupun masyarakat. Melalui Manajemen Berbasis Sekolah, maka administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat menjadi kunci sukses di dalamnya.
Dan ketika hubungan sekolah dengan masyarakat ini dapat berjalan harmonis dan dinamis dengan sifat pedagogis, sosiologis dan produktif, maka diharapkan tercapai tujuan utama yaitu terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara produktif, efektif, efisien dan berhasil sehingga menghasilkan out-put yang berkualitas secara inteletual, spritual dan sosial.
3.2. Saran
Mengingat pentingnya hubungan timbal balik antara sekolah dengan masyarakat, maka penting pula di realisirnya berbagai bentuk dan cara pelaksanaannya. Antara lain melalui open door politics (pemberian kesempatan kepada oranng tua murid berkunjung ke sekolah untuk membbicarakan masalah khusus yang terjadi pada anaknya), home visiting (kunjungan sekolah ke rumah murid), penggunaan resources persons (kunjungan sekolah ke objek-objek tertentu di masyarakat), pertemuan antara orang tua murid dan warga sekolah, dan pengadaan serta mengefektifkan Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3).
DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen FIP – IKIP Malang. (2003). Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Suriansyah, Ahmad. (2001). Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan. Banjarmasin: FKIP Unlam
Husen, Torsten. (1988). Masyarakat Belajar. Jakarta: Pusat Antar Universitas-Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Rajawali Pers.
Pidarta, M. (1988). Manajemen Pendidikan Indonesia. Edisi Pertama, Jakarta : Bina Aksara.
Mulyasa, Endang. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Read more

25 February 2012

Atom, Basics of Electricity and Electronics

Before we discuss the basics of electricity and electronics, we need to understand what matter is. Matter is anything that occuples space and has mass, or weight. Wire, rubber, and glass are examples of matter. Scientist study the properties of matter in order to know how it works. Energy has different forms, such as heat energy and electric energy. Electric energy result from the motion of tiny bits of matter called electrons. Energy can make changes in materials, such as putting them together, taking them appart, or simply moving them from one place to another.


The basic unit of matter is the atom. In studying electricity and electronics, it is important for you to understand the atom, because the electron is one of its parts. In this unit, the structure of the atom and its electrical properties are discussed

Structure of the atom
An atom is made up of tiny particles. Two of these particles, the elctron and the proton, are important to our studies.
Electrons move around the center, or nucleus, of an atom in paths. These paths are usually called shells. An atom can have several shells around its nucleus. Each of these shells can have only up to a certain number of electrons. This number is called the quota of a shell. When every shell of the atom contains its quota of electrons, the atom is said to be in a stable condition. The nucleus of the atom is made up of particles called protons and neutrons. These are held together tighty by a binding energy.
All electrons are alike, and all protons are alike. Thus, atoms differ  from one another only in the number of electrons and protons they contain. The number of protons in the nucleus is the atomic number of that atom. Neutrons weigh about the same as protons. The term atomic weight refers to the total number of particles (both protons and neutrons) in the nucleus of an atom.

Elements, compounds, and  molecules
When all the atom is a substance is called an element, copper, iron, and carbon are among the more than 100 different elements known to exist. Different elements can combine to form a subtance called a compound. Water, sugar, and plastic materials are exemples of compounds.
The smallest particle of a compound that has all the properties of that compound is called a molecule. A molecule contains atom of each of the elements that form the compound.

Charges
Electrons and protons have tiny amounts of energy known as electric charges. Electrons have negative (-) charges. Protons have positive (+) charges. Neutrons have no electric charge. Thus, they are natural. The amount of the negative charge of each electron is equal to the amount of the positive charge of each proton. These opposite charges attract each other. This attraction helps hold the atom together.
Under normal conditions, these negative and the positive charges in a atom are equal in value. This is because the atom has an equal number of electrons and protons. An atom in this condition is said to be elctrically neutral.

Valance elctrons
Elctrons in the outermost shell of an atom are called valence electrons. In the study of elctricity and electronics, we are concerned mostly with the behavior of valence electrons. They can, under certain conditions, leave their  “parent” atoms. The number of valence electrons in atoms also determines important electrical and chemical characteristics of the subtance.

Energy levels and free electrons
The electrons in any shell of an atom are said to be located at certain energy levels. These are related to the distance of the electrons from the nucleus of the atom. When outside energy such as heat, light, or elctricity is applied to certainmaterials, the electrons within the atoms of these materials gain energy. This may cause the electrons to move to a higher energy level. Thus, they move farther  from the nuclei of their atoms.
When an electrons has moved to the highest possible energy level (or the outermost shell of its atom), it is least attracted by the positive charges of the protons within the nuclei of the atom. If enough energy is then applied to the atom, some of the outermost-shell, or valence, electrons will leave the atoms. Such electrons are called free electrons.

Ions
An ion is a charged atom. If a neutral atom gains electrons, there are then more electrons than protons in the atom. Thus, the atom becomes a negatively charged ion. If a neutral atom loses electrons, protons outnumber the remaining electrons. Thus, the atom becomes a positively charged ion. Ions with unlike charges attract one another. Ions with like charges repel one another. The process by which atoms either gain or lose electrons is called ionization.

Electric charges in actions
A simple way of generating an electric charges is by friction. For exemple, if you rub a rubber balloon briskly with a wool cloth, electrons will move from the cloth to the balloon, causing the balloon to become negatively charged. If you then put the balloon to become negatively charged. If you then put the balloon against a wall, the balloon’s negative charge will repel electrons from the surface of the wall.
This will, in turn, cause the surface of the wall to become positively charged. The attraction between the opposite charges of the balloon and a small surface area of the wall is strong enough to hold the balloon in place
Read more